Pahala di 10 Akhir Ramadhan
Pahala di 10 Akhir Ramadhan
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَتَحَ لِعِبَادِهِ طَرِيقَ الْفَلَاحِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.....
Yang pertama dan paling utama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmatnya. Shalawat serta salam semoga terlimpah pada Nabi junjungan, Muhammad, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah....
Memang sepuluh akhir Ramadhan menjadi hari yang penuh dengan pahala dan keberkahan. Bagi para pemburu pahala dan keridhaan Allah, maka ia akan memaksimalkan hari-hari tersebut. la gunakan untuk melakukan berbagai ibadah seperti i'tikaf, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, dan amalan-amalan lain. Bahkan hari-hari tersebut menjadi hari yang istimewa dengan lepasnya dia dari berbagai kesibukan dunia selama setahun penuh dengan menyendirinya ia di masjid selama sepuluh hari untuk beri'tikaf.
Tetapi sepuluh akhir ramadhan juga menjadi hari-hari panen duit bagi para pedagang. Apalagi para pedagang makanan dan pakaian, seakan kerja sepuluh hari tersebut hasilnya cukup untuk makan setahun. Bahkan mereka harus mempersiapkan modal yang besar serta stok barang yang banyak untuk menghadapi sepuluh akhir bulan Ramadhan.
Bagi para pedagang, mungkin itu sebuah ujian tersendiri. Tinggal pilih yang mana, duit yang banyak dengan luputnya limpahan pahala, ampunan, dan lailatul qadar, atau luputnya duit yang banyak tetapi mendapat pahala yang melimpah dan pahala dari Allah Ta'ala karena lebih mementingkan ibadah.
Kebiasaan Rasulullah dan keluarga beliau, saat memasuki sepuluh akhir Ramadhan, beliau senantiasa menambah kualitas dan kuantitas ibadah beliau. Disebutkan dalam sebuah hadits:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِثْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Dari Aisyah dia berkata, "Nabi apabila telah masuk sepuluh hari akhir Ramadhan, beliau mengikat kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarga-nya, 197
Yang dimaksud mengikat kain sarung pada hadits di atas adalah beliau tidak menggauli para istrinya. Begitulah penggambaran dengan istilah 'mengikat kainnya'.
Sedangkan makna menghidupkan malam-malamnya adalah, mengubah malam yang biasa pada bulan-bulan selain Ramadan dengan menghidupkannya untuk melakukan ketaatan melalui ibadah. Di antaranya dengan shalat-shalat sunat, membaca Al-Qur'an, dan beriktikaf terutama di sepertiga malam sewaktu manusia terlena di malam hari, 10
Ma'syiral muslimin rahimakumullah...
Beberapa amalan yang dilakukan Rasulullah di sepuluh akhir Ramadhan di antaranya:
Pertama, mencari lailatul qadar.
Allah Ta'ala menurunkan Al-Quran pada lailatul qadr, malam yang agung, yaitu malam yang diberkahi. Itulah malam yang nilai ibadah pada saat itu lebih utama dari ibadah selama 1000 bulan, yaitu setara dengan ibadah selama 83 tahun lebih 4 bulan. Itulah malam yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Karena besarnya kemuliaan dan keutamaan ibadah di dalamnya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mencari dan meraih lailatul qadar. Rasulullallah bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Yang paling penting adalah menjaga stamina agar tetap bersemangat di sepuluh akhir bulan Ramadhan. Jangan hanya bersemangat saat malam-malam ganjil, sementara ia bersantai di malam-malam genap. Ini ciri orang yang tidak mendapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Kedua, melakukan i'tikaf.
Amalan sunnah lainnya di sepuluh akhir Ramadhan adalah i'tikaf. I'tikaf adalah menetap dan tinggal di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Dalil disyariatkannya, selain i'tikaf merupakan suatu bentuk ibadah yang dilaksanakan oleh Nabi, Allah juga mengisyaratkan anjuran i'tikaf dalam firman-Nya:
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
Dan janganlah kamu menggauli mereka itu (istri-istrimu), sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah [2]: 187)
I'tikaf disyariatkan bagi laki-laki dan perempuan. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah bahwa Rasulullah beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan). Aisyah meminta izin untuk ikut beri'tikaf, dan beliau pun mengizinkannya.
Namun demikian, wanita dibolehkan melakukan i'tikaf dengan memenuhi dua syarat, yaitu mendapatkan izin dari suami jika sudah bersuami dan i'tikafnya tidak menimbulkan fitnah.
Ketiga, memperbanyak doa.
Ulama bersepakat bahwa doa yang paling utama pada Malam Qadar adalah doa memohon ampunan dan maghfirah kepada Allah Ta'ala. Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Dari Aisyah dia berkata, "Aku bertanya, wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?" Beliau menjawab, "Katakanlah: 'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu anni" (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku).
Walau doa ini adalah doa yang disyariatkan saat malam lailatul qadar, tetapi tidak mengapa dan bahkan diperintahkan untuk berdoa dengan doa-doa lain untuk kebaikan dunia dan akhirat. Karena tentu tidak akan kita biarkan malam lailatul qadar berlalu tanpa memanjatkan doa terindah untuk diri kita. Marilah bersemangat mengisi sepuluh akhir Ramadhan, karena bisa jadi Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir yang kita jumpai. Demikian kultum yang kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Comments
Post a Comment